IKHTIAR MEMBANGUN GERBANG AKADEMIK ISLAM KAWASAN BORNEO
TANGERANG SELATAN, -- BERITAHARIAN86.COM || Di tengah perubahan global yang bergerak sangat cepat, perguruan tinggi Islam menghadapi tantangan baru yang tidak ringan. Kompetisi internasional, perkembangan teknologi digital, artificial intelligence, perubahan geopolitik, hingga transformasi ekonomi dunia menuntut kampus untuk bergerak lebih adaptif, terbuka, dan visioner.
Menurut Prof. Dr. Muhammad, M.Ag., perguruan tinggi Islam tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan global tersebut. Kampus harus hadir sebagai pusat produksi ilmu pengetahuan, ruang dialog peradaban, sekaligus penggerak transformasi masyarakat.
Dalam konteks itulah, beliau memandang IAIN Pontianak memiliki peluang yang sangat strategis untuk tumbuh menjadi pusat studi Islam di kawasan Borneo dan ASEAN.
Letak geografis Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia serta dekat dengan Brunei Darussalam dipandang bukan sekadar posisi administratif wilayah, tetapi sebagai kekuatan geopolitik dan akademik yang harus dimanfaatkan secara visioner.
Karena itu, Prof. Muhammad menawarkan arah pengembangan kampus yang lebih terbuka terhadap jejaring internasional, khususnya kawasan Asia Tenggara.
Menurut beliau, internasionalisasi kampus bukan sekadar memperbanyak penandatanganan kerja sama luar negeri, tetapi membangun ekosistem akademik yang mampu berkolaborasi secara global, menghasilkan riset berkualitas, memperkuat publikasi internasional, serta menghadirkan pengaruh intelektual di tingkat regional.
Karena itu, beliau mendorong penguatan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Malaysia, Brunei Darussalam, dan negara-negara lain melalui joint research, joint publication, student exchange, visiting professor, international conference, serta pengembangan pusat studi kawasan Borneo dan perbatasan ASEAN.
Dalam pandangan beliau, IAIN Pontianak memiliki kekuatan khas yang tidak dimiliki banyak perguruan tinggi lain, yakni kekayaan budaya Borneo, pengalaman hidup multietnis, tradisi harmoni sosial, serta Islam moderat yang tumbuh dalam masyarakat Kalimantan Barat.
Modal sosial tersebut dipandang sangat relevan di tengah dunia global yang sedang menghadapi konflik identitas, polarisasi sosial, intoleransi, dan krisis kemanusiaan.
Karena itu, beliau ingin menghadirkan IAIN Pontianak bukan hanya sebagai pusat studi Islam, tetapi juga sebagai pusat dialog peradaban dan laboratorium moderasi beragama di kawasan Borneo.
Selain internasionalisasi, Prof. Muhammad juga menilai pentingnya transformasi digital dan inovasi pendidikan tinggi.
Menurut beliau, generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang sangat berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Karena itu, kampus harus mampu menghadirkan sistem pendidikan yang adaptif, kreatif, berbasis teknologi, namun tetap berakar pada nilai moral dan spiritual. Melalui konsep Smart Islamic Campus 5.0, beliau mendorong pengembangan AI Academic Advisor, digital library, e-office, integrasi layanan akademik digital, serta penguatan budaya akademik berbasis inovasi.
Namun, di tengah seluruh agenda transformasi tersebut, Prof. Muhammad tetap meyakini bahwa inti perguruan tinggi tetaplah manusia. Karena itu, beliau memandang bahwa masa depan kampus tidak cukup dibangun hanya melalui teknologi dan infrastruktur, tetapi juga melalui integritas, budaya akademik, kepemimpinan yang sehat, dan kemampuan merawat harapan bersama.
Baginya, kampus harus menjadi rumah intelektual yang menghadirkan rasa aman, ruang tumbuh, dan kesempatan berkembang bagi seluruh sivitas akademika.
Dalam berbagai perjalanan akademiknya di berbagai negara, Prof. Muhammad melihat bahwa universitas-universitas besar dunia tumbuh bukan hanya karena fasilitasnya, tetapi karena kekuatan budaya akademik dan visi peradaban yang mereka bangun secara konsisten.
Karena itu, beliau percaya bahwa transformasi IAIN Pontianak menuju UIN Kalimantan Barat tidak boleh dipahami sekadar perubahan nomenklatur kelembagaan.
Lebih dari itu, transformasi tersebut harus menjadi gerakan bersama untuk membangun kampus unggul, kampus inklusif, kampus berintegritas, dan kampus yang mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan dunia internasional.
Pada akhirnya, bagi Prof. Dr. Muhammad, pendidikan tinggi Islam memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga masa depan peradaban. Seluruh perjalanan akademik, pengalaman internasional, dan pengabdiannya selama ini pada akhirnya bermuara pada satu keyakinan sederhana:
Ilmu pengetahuan harus hadir untuk membangun manusia, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan harapan bagi masa depan bersama.
Visi Prof. Dr. Muhammad tentang Masa Depan IAIN Pontianak
Bagi Prof. Dr. Muhammad, M.Ag., perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan. Kampus harus tumbuh menjadi pusat peradaban yang mampu membangun manusia, merawat budaya, memperkuat integritas, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Pandangan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam visi kepemimpinannya untuk IAIN Pontianak 2026–2030.
Menurut beliau, IAIN Pontianak memiliki posisi yang sangat strategis. Tidak hanya sebagai perguruan tinggi Islam di Kalimantan Barat, tetapi juga sebagai gerbang akademik kawasan Borneo yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan dekat dengan Brunei Darussalam.
Posisi geografis tersebut menghadirkan peluang besar bagi transformasi IAIN Pontianak menjadi pusat studi Islam, budaya Borneo, moderasi beragama, ekonomi halal, dan dialog antarperadaban di kawasan ASEAN.
Karena itu, Prof. Muhammad menawarkan arah pengembangan kampus melalui visi:
“Mewujudkan Universitas Islam Negeri Kalimantan Barat yang Unggul, Inklusif, Berintegritas, Berbasis Peradaban Islam dan Kearifan Budaya Borneo, serta Ber-Rekognisi Internasional.”
Dalam pandangan beliau, kampus masa depan harus memiliki keseimbangan antara keunggulan akademik, kekuatan moral, kearifan budaya, dan kemampuan bersaing secara global.
Karena itu, konsep “Peradaban Borneo” menjadi salah satu gagasan penting yang ditawarkan dalam pembangunan IAIN Pontianak ke depan.
Prof. Muhammad memandang bahwa masyarakat Borneo memiliki kekayaan nilai sosial dan budaya yang sangat relevan dengan tantangan dunia modern.
Tradisi Rumah Betang, misalnya, dipahami bukan sekadar simbol budaya Dayak, tetapi filosofi besar tentang hidup bersama dalam keberagaman. Begitu pula budaya Besaprah dalam tradisi Melayu Kalimantan Barat yang mencerminkan nilai egalitarianisme, kebersamaan, dan penghormatan sosial.
Nilai-nilai lokal tersebut menurut beliau sangat penting di tengah dunia yang semakin menghadapi polarisasi sosial, konflik identitas, intoleransi, dan krisis kemanusiaan global.
Karena itu, beliau ingin menghadirkan integrasi antara Islam rahmatan lil ‘alamin dengan nilai-nilai budaya Borneo sebagai fondasi pengembangan kampus yang inklusif dan berkeadaban.
Dalam kerangka tersebut, IAIN Pontianak diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter moderat, kepedulian sosial, wawasan multikultural, serta kemampuan membangun harmoni dalam keberagaman.
Selain penguatan budaya dan peradaban, Prof. Muhammad juga menaruh perhatian besar terhadap transformasi akademik dan tata kelola kelembagaan.
Beliau menilai bahwa perguruan tinggi Islam harus bergerak lebih adaptif menghadapi perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi digital, artificial intelligence, ekonomi hijau, dan kompetisi pendidikan global.
Karena itu, salah satu agenda yang didorong adalah pembangunan Smart Islamic Campus 5.0 melalui digitalisasi layanan akademik, AI Academic Advisor, penguatan digital library, e-office, serta budaya akademik berbasis teknologi dan inovasi.
Di bidang riset, beliau ingin mendorong IAIN Pontianak menjadi pusat unggulan kajian kawasan Borneo dan perbatasan ASEAN melalui pengembangan Border Civilization Studies, Eco-Theology of Borneo, Indigenous Knowledge, Forest Civilization Studies, serta ekonomi halal kawasan perbatasan.
Menurut beliau, kampus harus hadir bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai pusat produksi gagasan strategis yang mampu memberi kontribusi bagi pembangunan daerah, nasional, dan internasional.
Karena itu, internasionalisasi kampus menjadi bagian penting dari visi pengembangannya.
Namun, internasionalisasi yang dimaksud bukan sekadar kerja sama simbolik luar negeri. Lebih dari itu, internasionalisasi harus menjadi proses membangun pengaruh intelektual global berbasis identitas lokal yang kuat.
Dalam konteks tersebut, beliau mendorong penguatan jejaring akademik dengan universitas-universitas di Malaysia, Brunei Darussalam, dan berbagai perguruan tinggi dunia melalui joint research, joint publication, conference collaboration, pertukaran akademik, serta pengembangan pusat studi kawasan Borneo dan ASEAN.
Meski membawa gagasan besar transformasi kampus, Prof. Muhammad tetap memandang bahwa kekuatan utama perguruan tinggi terletak pada manusianya. Karena itu, beliau menekankan pentingnya membangun budaya akademik yang sehat, kolaboratif, humanis, dan berbasis merit system.
Baginya, kampus yang unggul bukan hanya kampus dengan gedung megah, tetapi juga kampus yang mampu menumbuhkan harapan, menjaga integritas, menghargai keberagaman, dan memberi ruang tumbuh bagi seluruh sivitas akademika. Dalam kerangka itulah, transformasi IAIN Pontianak menuju UIN Kalimantan Barat dipandang bukan sekadar perubahan status kelembagaan, tetapi bagian dari ikhtiar membangun pusat peradaban Islam Borneo yang unggul, moderat, inklusif, dan berdaya saing global
(*/Red)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar