Kisah Inspiratif Imam Fathwa, S.H., Membuktikan Keterbatasan Ekonomi Bukan Alasan untuk Berhenti Bermimpi

Kisah Inspiratif Imam Fathwa, S.H., Membuktikan Keterbatasan Ekonomi Bukan Alasan untuk Berhenti Bermimpi

IRRES

Kisah Inspiratif Imam Fathwa, S.H., Membuktikan Keterbatasan Ekonomi Bukan Alasan untuk Berhenti Bermimpi


TANGERANG,— BERITAHARIAN86.COM ||  Kisah perjalanan hidup Imam Fathwa, S.H., menjadi gambaran bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari keluarga berada. Dibesarkan dari keluarga sederhana, dengan ayah yang bekerja sebagai tukang becak mesin dan ibu sebagai guru honorer sekolah dasar, Imam justru menjadikan berbagai keterbatasan sebagai bahan bakar untuk mengejar cita-cita.

Sejak kecil, kehidupan Imam jauh dari kemewahan. Kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari keluarganya sering kali harus dipenuhi dengan berutang. Bahkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, Imam sudah memiliki inisiatif untuk berjualan demi mendapatkan uang jajan sekaligus membantu orang tuanya.

Memasuki SMP, perjuangan semakin berat. Ongkos transportasi pun terkadang tidak tersedia. Sesekali ia harus diantar-jemput menggunakan becak milik ayahnya. Pernah suatu ketika becak tersebut mogok di perjalanan menuju sekolah. Imam bersama ayahnya harus mendorong becak tersebut hingga dapat kembali berjalan.

Keterlambatan masuk sekolah karena kondisi tersebut juga beberapa kali membuatnya mendapat hukuman. Bahkan biaya sekolah sempat menunggak berbulan-bulan.

Di tengah keterbatasan itu, Imam tetap berusaha. Ia berjualan berbagai kebutuhan sederhana di sekolah, mulai dari sabun pencuci piring, mi, hingga makanan ringan. Baginya, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil selama dilakukan dengan cara yang baik dan halal.

Kondisi keluarganya bahkan pernah berada pada titik yang sangat sulit. Mereka pernah makan hanya dengan nasi dan garam atau nasi dengan cabai. Listrik rumah sempat diputus karena tunggakan. Ketika persediaan beras habis, Imam bahkan pernah menggadaikan telepon genggam Nokia lamanya ke warung untuk membeli beras, telur, dan kebutuhan makanan.

Namun, semua itu tidak membuatnya menyerah.

Dari Bengkel Las hingga Menjadi Sarjana Hukum

Setelah menyelesaikan pendidikan SMK, Imam sempat merasa bahwa impian untuk kuliah dan menjadi sarjana hukum sangat sulit diwujudkan. Bahkan ijazahnya sempat belum dapat diambil karena masih memiliki tunggakan biaya sekolah.

Ia kemudian bekerja serabutan, termasuk di bengkel las. Namun, satu hal tidak pernah hilang dari dirinya: keinginan untuk melanjutkan pendidikan.

Setelah sekitar satu tahun bekerja, kesempatan akhirnya datang melalui KIP Kuliah. Imam berhasil melanjutkan pendidikan S1 Hukum.

Selama kuliah, perjuangannya belum selesai. Ia tetap bekerja dan berjualan di luar jam perkuliahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berbagai pekerjaan pernah dijalani, mulai dari mengantar galon air isi ulang, mengantar gas LPG, menarik becak mesin, berjualan rokok dan sabun keliling, menjadi tukang las hingga bekerja sebagai satpam sekolah.

Selain bidang akademik, Imam juga aktif mengembangkan kemampuan bela diri. Ia mempelajari pencak silat sejak SMP dan pernah menjadi pelatih ekstrakurikuler di sejumlah sekolah di Kota Medan. Ia juga mengikuti berbagai perlombaan dan pernah meraih prestasi dalam bidang pidato, puisi, azan, serta pertandingan silat.

Mimpi Besar yang Terus Dikejar

Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. Imam berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Hukum dan memperoleh gelar sarjana hukum.

Tidak berhenti sampai di sana, ia kemudian memberanikan diri melanjutkan pendidikan S2 Magister Hukum di Universitas Islam Syekh-Yusuf Tangerang dengan berusaha membiayai pendidikannya secara mandiri.

Keinginan untuk terus belajar juga membuat Imam mengikuti pendidikan khusus profesi advokat dan menjalani proses ujian profesi advokat.

Hingga akhirnya, di usia yang masih sangat muda, 25 tahun, Imam resmi dilantik menjadi advokat.

Perjalanan tersebut menjadi titik balik yang luar biasa bagi seorang anak tukang becak yang dahulu kerap diremehkan.

Yang lebih menarik, semangat belajarnya hingga kini masih terus menyala. Imam disebut sedang menempuh pendidikan di beberapa perguruan tinggi dengan mengambil bidang S1 Ekonomi, S1 Psikologi, S1 Pendidikan, serta S2 Magister Hukum.

Jangan Pernah Meremehkan Orang Lain

Kisah Imam menjadi pengingat bahwa seseorang tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan keadaan ekonominya, pekerjaan orang tuanya, atau kondisi keluarganya.

Dulu, ia pernah mendengar anggapan bahwa anak tukang becak tidak mungkin bisa kuliah. Namun, hinaan dan keraguan orang lain justru menjadi motivasi baginya untuk membuktikan bahwa keadaan bukanlah penentu masa depan.

Perjalanan hidup Imam juga menunjukkan bahwa kesuksesan tidak datang secara instan. Ada air mata, rasa lapar, pekerjaan kasar, hinaan, kegagalan, dan perjuangan panjang yang harus dilewati.

“Jangan pernah meremehkan orang lain. Kehidupan itu seperti roda, terkadang kita berada di atas dan terkadang berada di bawah.”

Pesan tersebut menjadi pelajaran penting bagi generasi muda.

Keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Tidak memiliki fasilitas seperti orang lain bukan berarti tidak memiliki kesempatan untuk sukses.

Semua orang bisa menjadi apa pun yang mereka cita-citakan, selama mau berusaha, terus belajar, berdoa, dan tidak menyerah pada keadaan.

Dari seorang anak tukang becak yang pernah hidup dalam keterbatasan, Imam Fathwa kini memilih jalan pengabdian sebagai advokat dan terus mengejar pendidikan.

Kisahnya menjadi pesan sederhana bagi anak-anak muda:

Jangan malu dengan keadaan orang tua. Jadikan perjuangan mereka sebagai alasan untuk terus berjuang. Jangan takut diremehkan. Buktikan dengan karya, pendidikan, dan kesuksesan.

Karena masa lalu bukanlah penentu masa depan.

(Hendra)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar