Selamat Hari Pers Nasional 2026! “Menulis Kebenaran di Zaman Viral: Amanah Pers untuk Generasi Baru”
PANDEGLANG,-- BERITAHARIAN86.COM || detikPerkara - Pada 9 Februari 2026, Pers Nasional genap berusia 80 tahun. Delapan dekade bukan sekadar penanda waktu, melainkan perjalanan panjang sebuah institusi nurani yang ikut membentuk wajah republik. Pers tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari rahim pergulatan sejarah, dari ketegangan antara kekuasaan dan kebenaran, antara kepentingan dan keadilan, antara fakta dan ilusi.
Dalam filsafat klasik, Plato pernah mengingatkan bahwa keburukan sebuah negara bukan semata karena kejahatan para penguasa, melainkan karena diamnya orang-orang yang tahu kebenaran. Pers, dalam konteks ini, adalah mereka yang tidak memilih diam. Ia adalah suara yang berani hadir ketika sunyi menjadi nyaman dan kebohongan menjelma kebiasaan.
Namun, usia 80 tahun juga menuntut refleksi yang jujur. Di tengah arus digital yang deras, pers Indonesia hidup dalam zaman yang paradoksal. Informasi berlimpah, tetapi kebijaksanaan justru langka. Kecepatan mengalahkan ketelitian, viral sering kali menyingkirkan verifikasi. Di sinilah pers diuji bukan hanya sebagai penyampai kabar, tetapi sebagai penjaga makna.
Kasman, Pimpinan Redaksi Media detikPerkara asal Dungushaur - Surianeun Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, menilai bahwa jurnalisme sejati tidak tumbuh dari kemewahan pusat kekuasaan, melainkan dari kejujuran batin yang ditempa oleh keterbatasan.
“Saya belajar bahwa kebenaran sering lahir dari tempat yang sunyi. Dari desa, dari pinggiran, dari suara yang tak pernah dianggap. Jurnalisme adalah ikhtiar manusia kecil untuk menegakkan makna di hadapan kekuasaan yang kerap lupa batas,” tuturnya.
Ia menambahkan, krisis pers hari ini sejatinya adalah krisis keberanian eksistensial. “Ketika jurnalis berhenti gelisah, saat itu ia telah kehilangan jiwanya. Jurnalisme tanpa kegelisahan nurani hanyalah industri kata-kata yang kosong,” kata Kasman.
Jurnalisme, dalam pandangannya, bukan sekadar profesi, melainkan panggilan etis yang menuntut kesetiaan pada kebenaran meski berisiko.
“Menulis berita bukan soal siapa yang kita hadapi, tetapi siapa yang kita khianati jika kita memilih diam. Diam terhadap ketidakadilan adalah bentuk lain dari kebohongan,” ujarnya.
Hari Pers Nasional ke-80 seharusnya menjadi momen kontemplasi kolektif: masihkah pers berdiri di sisi publik, atau perlahan tergelincir menjadi alat kepentingan? Masihkah ruang redaksi menjadi tempat pertarungan gagasan, atau sekadar pabrik konten yang tunduk pada algoritma?
Dalam tradisi filsafat eksistensial, manusia dinilai dari pilihan-pilihannya. Begitu pula pers. Setiap judul yang dipilih, setiap narasi yang dibingkai, setiap fakta yang disorot atau disembunyikan, adalah keputusan moral.
Kasman kembali menegaskan bahwa keberpihakan pers semestinya berpijak pada kemanusiaan dan pers tidak boleh menjadi menara gading.
“Ia harus membumi, menyentuh luka-luka sosial, dan berani berkata tidak ketika kekuasaan meminta pembenaran. Jika pers kehilangan empati, maka ia kehilangan legitimasi moralnya,” tegasnya.
Pers yang beradab adalah pers yang berani meragukan dirinya sendiri. Ia terbuka pada koreksi, menolak arogansi moral, dan sadar bahwa kebenaran adalah proses yang harus terus diperjuangkan. Dalam dunia yang semakin bising, pers harus menjadi ruang sunyi tempat publik berpikir jernih.
Delapan puluh tahun Pers Nasional adalah warisan, tetapi juga amanah. Ia menuntut generasi jurnalis hari ini untuk tidak sekadar mewarisi profesi, melainkan mewarisi keberanian. Keberanian untuk mengatakan yang benar, meski tidak populer. Keberanian untuk menolak kompromi yang mencederai integritas. Keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah industri.
Pada akhirnya, pers bukan hanya soal berita, melainkan soal peradaban. Ketika pers runtuh secara etika, yang runtuh bukan hanya kepercayaan publik, tetapi fondasi demokrasi itu sendiri. Sebaliknya, ketika pers tegak menjaga nurani, ia menjadi cahaya—kecil mungkin, tetapi cukup untuk menuntun arah.
Selamat Hari Pers Nasional ke-80. Semoga pers Indonesia tetap setia pada panggilan sejarahnya: menjadi saksi yang jujur, suara yang merdeka, dan penjaga nurani bangsa.
(*/Ressy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar